The Journey (Manokwari - Jakarta - Belitung)



Hari Jumat 22 Oktober 2021 sore sekitar jam 17.00, saya dapat informasi bahwa kegiatan Bimtek Pengawasan Usaha Budidaya akan dilaksanakan di Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung Provinsi Bangka Belitung. Kegiatan Bimtek ini sekaligus dirangkaikan dengan perayaan HUT Kementerian Kelautan dan Perikanan yang Ke-22 di lokasi yang sama. Karena rute perjalanan ini tidak bisa dilakukan hanya satu kali penerbangan sehingga perlu transit di Jakarta dan sebagaimana persyaratan perjalanan ke daerah Jawa dan Bali, harus dilengkapi dengan hasil pemeriksaan negatif PCR. Hari Sabtu Pagi sekitar jam 08.25, saya bergegas ke RSUD Provinsi untuk melakukan pemeriksaan PCR dan ternyata mulai tanggal 15 Oktober, pemriksaan PCR hanya boleh dilakukan bila melampirkan surat tugas dari instansi atau surat keterangan kedukaan apabila kepentingan perjalanan karena kedukaan. Sehingga saya harus balik lagi ke kantor untuk print surat tugas. Pemeriksaan PCR kali ini rasanya berbeda, hidung dan tenggorokan rasa diaduk-aduk hehehe.. begitu selesai pemeriksaan PCR, saya tanyakan bayar dimana, petugas pemeriksanya menjawab bahwa di RSUD Provinsi Papua Barat pemeriksaan PCR tidak bayar alias gratis.. Jadi pahamlah saya mengapa persyaratan pemeriksaan PCR harus melampirkan surat tugas karena difasilitasi dan dibiayai oleh negara. Hasil pemriksaan PCR baru bisa diperoleh satu hari kemudian. tentunya tiket sudah ada, dan ini sangat krusial bila terjadi hal yang tidak diinginkan yaitu bila hasilnya positif, tapi puji Tuhan hasil pemeriksaannya negatif. 

Hari Minggu siang setelah selesai ibadah minggu di GKI Eben Haezer, berangkat ke Bandara Rendani Manokwari. Rupanya ruang tunggu keberangkatan sangat sesak dengan banyaknya penumpang, sampai banyak penumpang yang tidak mendapatkan tempat duduk. Entah faktor apa. APakah karena selama penerapan PPKM sehingga banyak yang tidak bisa pulang atau karena banyak perjalanan dinas instansi yang selama ini tertunda. Sekitar jam 12.50 waktu setempat, kami boarding dengan pesawat Lion Air JT 0785 tujuan Makassar dan sempat turun utnuk lapor petugas transit dan melanjutkan perjalanan dengan pesawat yang sama namun nomor yang berbeda yaitu JT 0703. Sekitar jam 16.00 Wib, pesawat kami mendarat di bandara Soekarno Hatta dan tanpa tunggu lama, saya pesan taksi di bandara. dari Agen sampaikan 200rb. saya pikir ini terlalu mahal untuk jarak yang tidak terlalu jauh, yakni ke hotel Swissbell in Airport. Tapi saya tetap iyakan, hitung-hitung untuk bantu mereka juga. Ketika sudah di dalam mobil, saya tanya supirnya, kenapa terlalu mahal. Lalu dia mulai cerita bahwa sebenarnya yang buat mahal adalah agennya. Jadi saya bayar 200rb itu, supirnya hanya diberi 100rb, itupun dia masih harus bayar aplikasi 20%, jadi supir hanya dapat sekitar 80rb. Suatu cara yang sangat tidak adil menurut saya. orang lain yang bekerja tapi orang lain yang menikmati lebih banyak. Memang operator taksi juga membayar tempat di bandara, namun seharusnya hak supir yang lebih banyak. 

Setelah check in di hotel Swiss bell in airtport, saya tanya ke security hotel dimana warung yang menyediakan sup kambing dan ternyata tidak jauh dari hotel ada warung kaki lima yang menjual sate dan sup kambing. dan yang menarik bagi saya, di samping warung sup kambing tersebut ada warung kaki lima lainnya yang menjual ikan mujair bakar, nama warungnya Raja Gurih Bang Roy, hehee.. tapi sayang saya lebih tertarik makan sup kambing bukan ikan mujair hehee...

Senin pagi sekitar jam 06.00 sudah diinfokan bahwa semua pegawai Stasiun PSDKP Biak wajib mengikuti apel pagi secara virtual. Kami yang sementra dinas luar juga wajib ikut apel kecuali dalam pesawat. Memang benar di wilayah timur sudah pukul 08.00. Jadi sambil beres-beres, sarapan, juga sambil ikut apel pagi. Dan ternyata ada agenda pembacaan Surat Tugas dari Dirjen PSDKP, saya dapat penugasan di tempat yang baru yaitu Jayapura. Kaget juga karena tidak ada penyampaian sebelumnya. 

Setelah apel pagi selesai, berangkat ke bandara diantar oleh mobil yang disiapkan oleh pihak hotel. Urusan keberangkatan di Bandara Soeta juga ribet, apalagi kami yang dari daerah yang terbiasa berangkat di bandara yang kecil. Setelah menunggu agak lama di ruang tunggu, akhirnya berangkat juga dengan pesawat Sriwijaya, waktunya tidak lama, hanya sekitar 1 jam 10 menit, akhirnya tiba Bandara Depati Amir Tanjung Pinang, kami tidak turun pesawat karena waktunya hanya sekitar 20 menit. Lanjut ke Bandara H.A.S Hanandjoedin Tanjung Pandan dan tiba sekitar jam 12.30, di bandara ada pesawat Air surveylance milik PSDKP, mau foto-foto di depan pesawat PSDKP tapi dilarang oleh petugas bandara hehe..

Dari Bandara diantar oleh supir pak Herfan, orangnya ramah dan tarifnya juga murah. hanya 95rb dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. dalam perjalanan, saya melihat kota tanjung pandan ini hanya kota kecil. tidak ramai. hanya pusat kota saja yang agak ramai. bahkan di lampu merah saja, paling 3 kendaraan roda 4. Tentunya Manokwari jauh lebih ramai. Selama dalam perjalanan, pak Herfan tidak henti-hentinya menerangkan nama-nama lokasi dengan logat melayunya yang kental, ada beberapa bangunan Belanda yang masih berdiri kokoh dan terawat di pusat kota atau disebut batu Tasam. Dari cerita pak Herfan, katanya pada zaman Orde Baru (Pak Harto), Belitung dikenal sebagai daerah merah. Tempatnya pemikir-pemikir garis keras. Tokoh PKI D.N Aidit ternyata orang Belitung. Pakar hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra juga berasal dari Belitung dan Ahok (Basuki Tjahaya Purnama) juga berasal dari Belitung. Kota kecil ini ternyata penghasil pembesar-pembesar bangsa. Selain sebagai penghasil pembesar bangsa, belitung juga dikenal sebagai penghasil timah. bahkan cerita pak Herfan bahwa beberapa bulan lalu, BBM sempat langka karena banyaknya permintaan untuk tambang timah. Tidak terasa kami sampai di hotel tempat tujuan, BW Suite Hotel. Hotelnya lumayan besar. Letaknya pas di pinggir pantai. pemandangan dari kamar saya yang berhadapan langsung dengan laut sangat indah dengan kapal-kapal yang sedang berlabuh. sayang agak kabur karena lagi mendung dan tidak lama kemudian hujan deras.

Posting Komentar untuk "The Journey (Manokwari - Jakarta - Belitung)"