Wisata Serba Ada di Pulau Banda

Roysalinding.com - Wisata di Banda. Berikut ini adalah pengalaman saya saat mengunjungi objek wisata di Banda. 


Benteng Belgica
Apabila kita ke Banda dengan menumpangi kapal laut, maka sebelum kapal sandar di pelabuhan Banda, di puncak bukit berdiri mega bangunan yang berwarna coklat kehitaman. Bangunan ini yang pertama kali membuat saya tertarik untuk mengunjungi Banda. Dulu hanya bisa melihat dari kejauhan, namun kali ini bisa melihat langsung di bagian atas menaranya bahkan di bagian dalam. Benteng Belgica menyerupai segi lima. 

Benteng ini tidak pernah sepi pengunjung, terutama jika kapal Pelni masuk di Banda. Pengunjungnya dari wisatawan lokal, domestik dan mancanegara. jika anda ingin mengasah kemampuan bahasa inggris anda, maka dapat mengunjungi benteng Belgica karena banyak pengunjungnya berasal dari manca negara. Saya pun sudah mencoba “speaking” dengan mereka tapi karena sudah lama tidak latihan, sehingga lidah ini terasa sangat kaku. Dan terlebih kosa kata bahasa Inggris sudah banyak yang di lupa, akhirnya lebih banyak menggunakan bahasa isyarat hahaaaa.. 

Benteng belgica dibangun pada tahun 1611 atas perintah Gubernur Jenderal Belanda J.Pieter Both. Di tengah-tengah benteng terdapat sumur yang konon menghubungkan benteng Belgica, Benteng Nassau dan Pelabuhan Banda. Sangat luar biasa.. sayang benteng ini kurang terawat sehingga kelihatan tidak menarik.
Benteng Belgica di Banda





Depan istana Mini Banda Naira
depan istana Mini Banda Naira

Rumah Pengasingan Bung Hatta
Pulau Neira, ibu kota Kecamatan Banda memang kecil namun sepertinya kita tidak pernah kebahisan lokasi wisata yang menarik. Hari ini kami fokuskan untuk mengunjungi peninggalan sejarah. Dan salah satu yang menarik adalah bekas rumah pengasiangan Bung Hatta, manta wakil Presiden RI yang pertama. Di rumah pengasingan Bung Hatta tersebut ditemui bukti-bukti sejarah baik berupa foto-foto maupun benda-benda lain peninggalan Bung Hatta. Salah satunya yang menarik untuk berpose adalah mesin ketik Bung Hatta yang masih baik hingga sekarang. Bangga rasanya “menggunakan” mesin ketik mantan Wakil Presiden RI yang pertama.

Selain itu terdapat papan tulis yang pernah digunakan Bung Hatta, luar biasa pengabdian Beliau, disaat dalam pengasingan, masih juga menyempatkan diri untuk mendidik putra-putri Banda. Benda-benda peninggalan di bekas rumah pengasingan Bung Hatta masih banyak lagi antara lain meja kerja, meja rias, lemari pakaian, kursi santai, dan guci untuk berwuduh. Satu pemandangan yang menarik perhatian saya yakni foto Bung Hatta dan istrinya. Di keterangan fotonya ditulis Bung Hatta membuktikan janjinya untuk menikahi Rachmi Rahim setelah Indonesia merdeka. Sebuah janji suci yang penuh keyakinan dan konsisten. Patut ditiru

Tempat Bung Hatta mengajar anak-anak di Banda

Rumah Pengasingan Bung Syahrir
Tidak banyak yang dapat saya peroleh di bekas rumah pengasingan Bung syahrir, karena pada saat kami menunjunginya, rumah tersebut sedang tertutup. Kemungkinan disebabkan karena kurangnya pengunjung ke tempat tersebut. Namun berdasarkan sejarah bahwa Bung Syahrir diasingkan ke Banda bersamaan dengan Bung Hatta setelah pengasingan dari Digul, Papua. Sehingga kami hanya mendokumentasikan bangunan tersebut dari luar. 

Pada tahun 1937 Bung Syahrir dan Bung Hatta dipindahkan dari Digul ke Banda Neira. Mereka menempati rumah yang berbeda.


Rumah Pengasingan dr. Tjipto Mangunkusumo
Tidak jauh berbeda dengan rumah pengasingan Bung Syahrir, rumah pengasingan dr. Tjipto Mangukusumo lagi tertutu sewaktu kami mengunjungi. Rumah pengasingan salah satu pendiri Budi Utomo ini berukuran besar untuk rumah rumah pada umumnya di sekitarnya.


Rumah Kapten Christoper Cole
Salah satu peristiwa terjadi di Banda Neira pada tanggal 8 Maret 1796, saat Kapten Marinir Inggris Capt (Marinir) Chirstoper Cole menyerbu dan menguasai benteng Belgica. Sehingga Banda dalam penguasaan Inggris dan Belanda menyerah kepada Inggris.

Rumah Captain Christoper Cole
Rumah Capt. Christopher Cole


Perigi Rante
Perigi Rante adalah saksi sejarah kekejaman Belanda terhadap penduduk Banda. Pada prasasti perigi Rante tersebut tercantum nama-nama yang jadi tumbal perjuangan masyarakat Banda atas kesewenang-wenangan Belanda dalam menjalankan sistem perdagangan di Banda. Di prasasti tersebut tertulis nama-nama pahlawan yang diasingkan ke Pulau Banda serta korban dan jumlah yang melarikan diri dari Banda.


Gereja Tua
Peninggalan sejarah di Banda yakni gereja tua yang menurut informasi dibangun pada tahun 1600 an, namun karena serangan gempa bumi dan letusan Gunung Api Banda mengakibatkan kerusakan pada gereja tersebut. Pada tahun 1852, gereja ini mengalami perbaikan dan hasil perbaikan tersebutlah yang kita lihat sampe sekarang. Sampe sekarang lantainya sangat Belanda banget karena di lantainya terdapat tulisan-tulisan Belanda, entah apa artinya. Mimbarnya yang tergantung di depan dan mimbar. Saya saja jadi orang benruntung karena merayakan natal di Banda dan peninggalan sejarah.

Gereja tua peninggalan Belanda
Gereja tua peninggalan Belanda di Pulau Banda

Benteng Nassau
Benteng Nassau adalah bangunan peninggalan bangsa Portugis yang direbut oleh pasukan Belanda. Benteng Nassau dibangun pada tahun 1500-an namun sayangnya peninggalan sejarah tersebut saat ini kurang terawat dan dibagian dalamnya digunakan oleh masyarakat untuk beternak sapi.

Depan benteng Nassau
Depan benteng Nassau




Bandara Banda Neira
Kalo anda berkunjung ke Banda, maka anda akan menemukan bandara yang super kecil dan bentuknya juga unik, yakni memotong pulau Neira. Dari segi fasilitas, bandara ini pun sangat tidak memadai. Pesawat yang melakukan penerbangan ke Banda adalah jenis pesawat Merpati Airlines C-212.


Gunung Api
Gunung Api Banda membentuk pulau sendiri. Merupakan salah satu gunung api yang masih aktif di Indonesia. Tinggi gunung api Banda yakni 654 m DPL. Apabila anda berhasil mencapai puncaknya, maka akan tersaji pemandangan yang indah. Pemukiman dan objek wisata lain di Banda, akan terlihat jelas di puncak Gunung Api Banda. Namun, jika berminat menikmati pemandangan yang luar biasa dari puncak Gunung Api Banda, ada baiknya sebelum matahari terbit atau sebelum matahari terbenam. Tentunya anda akan berkorban waktu, yakni berangkat subuh atau minimal pulang pada malam hari. Akan tetapi pengorbanan tersebut tidak ada artinya dibanding dengan kepuasan yang didapatkan. Waktu yang ditempuh dari titik pos 1 hingga puncak gunung adalah sekitar 1 – 2 jam. Hal ini tergantung dari para pengunjungnya.

Gunung api Banda
Gunung Api Banda


Sunset di Gunung Api Banda, pukul 18.15 

Pemandangan saat senja dari puncak gunung api
Pemandangan dari puncak gunung api saat senja

Bendera Merah Putih di puncak gunung api Banda
Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Api Banda


Eksplorasi keindahan bawah laut Banda
Keindahan laut Banda telah dikenal hingga ke mancanegara, hal ini tidak mengherankan jika banyak wisatawan asing yang mengunjungi Pulau Banda, untuk menikmati pemandangan alam bawah lautnya.
Pertama turun, kita langsung disuguhi dengan pemandangan terumbu karang yang menyerupai hutan, bahkan hutan yang lebat di dunia, hutan amazon hehehe.. (saya pun belum melihat secara langsung hutan amazon seperti apa). Namun demikianlah saya menggambarkan kondisi terumbu karang di Pulau Banda. 

Perairan Banda masuk dalam kawasan konservasi yang di kelola oleh Satker Taman Wisata Perairan Banda, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dari mereka pula lah, kami mendapat pinjaman peralatan selam (SCUBA). 

Spot penyelaman di sekitar lava gunung api Banda
Melakukan selam di laut Banda


Ekosistem bawah air di sekitar Pulau Banda
Pemandangan bawah air di sekitar perairan P. Banda
 


Menyelam di perairan sekitar Gunung Api Banda
Kondisi ekosistem bawah air sekitar gunung api Banda


Pala dan Kenari Banda
Tidak puas hanya mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah, sunset di puncak gunung api Banda dan wisata selam, kami pun berkunjung ke Pulau Banda Besar. Di pulau tersebut terdapat perkebunan pala dan kenari.

Sebagaimana kita ketahui bahwa karena pala dan rempah-rempah lah, bangsa Eropa menginjakkan kaki di Indonesia, khususnya di Maluku. Sebagai penghasil rempah-rempah, Pulau Banda banyak mendapat kunjungan pedagang dari luar negeri. Bahkan negara-negara eropa seperti Portugis, Inggris dan Belanda berusaha menguasai Pulau Banda dan semua hasil alamnya.

Pala merupakan komoditi perdagangan yang sangat mahal di saat itu sehingga ada semboyan yang menyatakan 1 buah pala sebanding dengan 1 gram emas.

Untuk mengingat kembali peristiwa bersejarah, baiknya kita mengunjungi kampung Lonthor,dikampung tersebut terdapat perkebunan kenari dan pala. Juga terdapat bangunan yang disebut perek, yakni bangunan yang digunakan untuk pengolahan hasil kebun pala. Namun, bangunan tersebut kurang mendapat perawatan dan terkesan terbengkalai.

Buah pala
Buah pala


Penumpang gelap KM.Tidar
Menjadi orang baik-baik terkadang membosankan juga, butuh suasana lain. Karena itu, pada saat pulang dari Banda dengan menumpangi kapal laut KM. Tidar, kami putuskan tidak membeli tiket penumpang. Ingin merasakan suasana menjadi penumpang illegal. Menjadi penumpang gelap bukan berarti tidak bayar, namun nilainya hanya sekitar 40% - 50 % dari nilai yang nilai yang seharusnya. Tentunya penumpang gelap hanya bisa di kelas ekonomi. Bermodal Rp 50.000,-, kami berhak menjadi penumpang dan bebas dari rasia petugas. 

Suatu pengalaman baru, jadi penumpang gelap tidak diberi tiket pada saat melapor diri di kapal, namun hanya dicatat namanya. Pada saat pemeriksaan tiket, kita hanya menyebutkan nama. Yang menjadi pertanyaan, apakah petugasnya hafal nama-nama yang telah dicatat, bisa saja dikelabuhi oleh penumpang dengan menyebut 1 nama untuk 2 orang. 

Pengalaman unik lainnya yakni para wisatawan mancanegara lebih memilih di dek luar, dibanding di dalam kamar. Padahal dari segi finansial, mereka lebih banyak. Mungkin ini yang disebut hemat pengeluaran tapi kaya akan pengalaman.

Selamat berjumpa lagi di lain kesempatan di Banda. Tujuan destinasi serba ada.

Posting Komentar untuk "Wisata Serba Ada di Pulau Banda"